Posted by: devirahman | February 4, 2010

MEWUJUDKAN DAMAI ACEH YANG NYATA

EMPAT tahun perdamaian di Aceh, adalah sebuah usia yang relatif dini. Namun kualitas perdamaian tidaklah ditentukan oleh rentang waktu yang panjang. Ketika konsensus itu sudah menjadi kesepakatan bersama maka disitulah genderang rasa aman mulai dirasakan. Perdamaian di Aceh bukanlah hanya kabar bahagia untuk rakyat Aceh semata, namun kabar kebahagiaan saudara-saudara kita semua dari sabang sampai merauke. Demikian pula saat kabar Tsunami datang, kita semua pun merasa berduka dan merasakan betapa beratnya penderitaan yang dialami rakyat Aceh. Hanya satu keyakinan bahwa badai pasti akan berlalu, dan keyakinan itu sudah terwujud sekarang.
Dalam teori resolusi konflik, konflik bukan berarti selamanya angkat senjata. Ada ruang integrasi disana yang dapat dicapai melalui kesepakatan-kesepakatan, menuju sistem yang baik. Mungkin artikel Mengaca Gerakan Mahasiswa Aceh, adalah gambaran real, bahwa gerakan sosial perdamaian mampu meruntuhkan sendi-sendi peperangan. Menuju area perdamaian membutuhkan upaya, demikian pula meningkatkan kualitas perdamaianpun membutuhkan upaya yang lebih besar. Tanggungjawab besar lain yang diperlukan adalah bagaimana mengisi nuansa perdamaian itu agar lebih bermanfaat bagi rakyat aceh pada umumnya.

Kabar bahagia buat saya adalah ketika membaca artikel saudara Saiful Mahdi yang berjudul ‘Jak Meudagang: Lompatan SDM Aceh’. Dituliskan bahwa….sudah lebih 1360 orang putra-putri Aceh yang dikirim belajar ke Malaysia, India, Australia, Taiwan, Mesir bahkan ke Jerman dan Sudan oleh Komisi Beasiswa Aceh. Mereka belajar pada jenjang S1 sampai S3. Bantuan dana pendidikan untuk yang bersekolah di dalam negeri, termasuk untuk program spesialis kedokteran, juga tak kurang…”.

Memang, bahwa membangun (dalam hal ini membangun ranah sosial, sebagaimana James Midgley katakan) tidak hanya dengan otot, tidak hanya dengan materi dan kekayaan alam yang melimpah. Lebih daripada itu adalah dengan membangun kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Membangun SDM, bukanlah doktrin untuk menjadikan rakyat aceh menjadi rakyat yang berlimpah ruah dengan uang, tapi membangun rakyat aceh yang bergelimang kesejahateraan, bukan hanya disektor ekonomi, namun juga kemerdekaan berpolitik, kemerdekaan dari segala intimidasi sosial, dan kebebasan mengembangkan budaya termasuk budaya akademisi.

Sebuah pengalaman sejarah di Indonesia di awal kemerdekaan, Indonesia juga mengirimkan putra-putri terbaik mereka belajar ke seluruh penjuru dunia untuk menuntut ilmu. Cita-cita pada waktu itu adalah agar putra-putri terbaik Indonesia mempunyai standar kualitas manusia Internasional. Mereka dituntut untuk menerapkan ilmu yang mereka dapatkan di luar Negeri di Indonesia. Inilah babak baru penjajahan yang sebenarnya sedang didera Indonesia, dan berdampak kemiskinan dan ketidakadilan sosial di seluruh penjuru tanah air, bukan hanya di Aceh, tapi juga di Jawa, dan juga pulau-pulau lain hingga Papua.

Kesalahan bukanlah pada itikad cita-cita mahasiswa untuk mendapatkan ilmu, namun pada proses penerapan ilmu sendiri, setelah ilmu tersebut di dapatkan, ilmu tersebut langsung diterapkan. Menuntut ilmu diluar daerah yang lebih maju, bukanlah cara untuk menduplikat metode yang diterapkan di negara maju untuk diterapkan di Indonesia. Sejarah Indonesia mencantat bahwa ribuan mahasiswa Indonesia hijrah menuntut ilmu ke luar negeri untuk diterapkan Indonesia.

Sejarah menjadi saksi, bahwa ekonom-ekonom Indonesia adalah produk hegemoni kapitalisme barat, yang diproduksi, didoktrin dengan ekonomi kapitalis barat. Seharusnya cita-cita Indonesia menyekolahkan putra-putrinya ke luar negeri (Barat) adalah bukan menuntut ilmu untuk diterapkan, tapi menuntut ilmu agar tahu: strategi apa yang mereka gunakan, sampai mampu menghegemoni rakyat indonesia agar berkiblat pada tata ekonomi dunia barat yang jelas tidak cocok diterapkan pada tata ekonomi negara berkembang. Dengan mengetahui strategi doktrin mereka pada Indonesia, harusnya Indonesia memahami cara dan strategi baru agar bisa lepas dari jeratan tata ekonomi dunia barat.

Namun sayangnya kesalahan orientasi belajar putra-putri bangsa Indonesia waktu itu adalah belajar untuk diterapkan. Banyak dari mereka produk luar negeri, sudah terbius oleh popularitas universitas tempat mereka belajar. Banyak pula di antara mereka yang akhirnya menjadi dosen-dosen di universitas terkemuka, dan menerapkan ilmu yang mereka dapatkan secara mentah-mentah. Akhirnya, ibaratkan rantai yang sangat panjang doktrin yang berasal dari negara barat tersebut sukses disebarkan di seluruh penjuru tanah air. Dan sayangnya Indonesia tidak pernah menyadari hal tersebut, di saat bangsa Indonesia menyadari, jeratan kapitalisme telah begitu mengakar kuat dan perlu perjuangan panjang untuk kembali pada kondisi indonesia yang sehat. Sebuah fakta bahwa saat ini Indonesia belum merdeka. Indonesia masih terjajah.

Ibaratkan kita akan melakukan sebuah kegiatan pemberdayaan, sebagai bentuk pembangunan sosial di tingkat mikro, kita tidak bisa langsung menerapkan berbagai metode di suatu daerah. Aspek kebudayaan memiliki factor yang penting untuk tercapainya pemberadayaan tersebut. Setiap daerah memiliki budaya yang berbeda, dan perlu perlakuan yang berbeda pula karena memiliki tingkat sensitifitas yang berbeda. Logika berpikir tentang pemberdayaan ini tentunya bisa dijadikan acuan tentang bagaimanakah selayaknya kita mengaplikasikan pengetahuan yang telah kita peroleh, sehingga tepat sasaran, efektif dan efisien. Penulis analogikan secara sederhana, misalnya putra aceh melakukan studi di Jawa, katakanlah Yogyakarta. Ilmu apa yang didapat di tanah jawa haruslah dipelajari dulu, cocokah diterapkan pada kondisi budaya aceh? Adakah alternatif lain yag lebih ideal? Sisi-sisi inilah yang kerap sekali dilupakan oleh para pelajar kita di Indonesia.

Para pelajar begitu mudah terbius, begitu mudah terkagum-kagum oleh besarnya dan begitu populernya universitas tempat mereka belajar. Sehingga apapun model yang di dapat di kampus mereka, tentulah itu yang dianggap benar. Padahal, kampus hanyalah media untuk belajar, selanjutnya untuk pengembangan aplikasi adalah diserahkan semuanya pada masing-masing personal.

Kalau kita menganalisis tulisan Antonio Gramsci, sebuah hegemoni ibaratkan benang yang halus di mana orang-orang sulit untuk menyadari bahwa sebenarnya doktrin itu tengah berlangsung. Hegemoni bisa terjadi melalui pencitraan media, melalui pendidikan, bahkan melalui bantuan kemanusiaan sekalipun. Di manapun ada celah untuk memasukan doktrin, disitulah sebuah hegemoni sedang berlangsung.

Oleh karena itulah, orientasi pembangunan yang diselenggarakan oleh rakyat Aceh kiranya harus terus dikawal oleh segenap rakyat Aceh itu sendiri pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Apalah arti sebuah perdamaian jika sebenarnya yang terwujud adalah kedamaian yang hampa. Kedamaian yang statis tanpa adanya perubahan menuju arah yang lebih baik. Pembangunan bukanlah perdebatan antara liberalism atau sosialisme. Aceh khususnya dan Indonesia umumnya bukanlah Martin Wolf yang mengagungkan Globalisasi sebagai jalan menuju kesejahteraan, Aceh khususnya dan Indonesia umumnya juga bukanlah Michael Newman yang menganggap sosialisme abad 21 sebagai jalan alterantif abad 21. Aceh khususnya dan Indonesia umumnya adalah pribadi tersendiri yang memimpikan perdamaian di atas keadilan sosial atas dasar kesejahteraan seluruh masyarakatnya.

Jagalah perdamaian di Aceh. Isilah masa damai dengan berbuat yang terbaik untuk bangsa, jadikan rakyat Aceh menjadi tuan di negeri sendiri. Kedamaian yang hampa tidaklah berarti. Semoga cita-cita Aceh yang damai dan sejahtera bisa terwujud dan kami percaya kualitas SDM Aceh yang maju akan bisa melalui segala pernik pembangunan sosial yang akan dilewati pada masa kini dan masa yang akan datang. Salam perdamaian.

Artikel ini dimuat di  “Aceh Institute”. Devi Rahman | Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi konsentrasi Kebijakan dan Kesejahteraan Sosial UGM Yogyakarta. Hak Cipta Terlindungi © Copyrights by The Aceh Institute | Bila mau mengutip, mengacu, menggunakan, dan menyebarluaskan isi website ini harus sesuai seizin penulis asli dan “Aceh Institute” sebagai sumber otentik.| WWW.ACEHINSTITUTE.ORG|.

Didedikasikan secara khusus, kepada sahabat karib penulis: Masrizal, MA (aneuk Aceh) yang akan segera mengamalkan ilmunya, dan mengisi perdamaian di Aceh setelah menyelesaiakan studi S2 di Universitas Gadjah Mada.

Selengkapnya mengenai artikel ini bisa di akses di WWW.ACEHINSTITUTE.ORG

Posted by: devirahman | November 17, 2009

Mencapai Pembangunan Sosial

Sebuah Perspektif Institusional

Perspektif Institusional berpendapat bahwa institusi sosial yang berbeda termasuk negara, pasar dan masyarakat dapat dimobilisasi untuk mengangkat tujuan pembangunan sosial. Pemerintah seharusnya secara aktif mengarahkan proses pembangunan sosial dengan cara memaksimalkan partisipasi masyarakat, pasar, dan individu, selain menfasilitasi dan mengarahkan pembangunan sosial, pemerintah juga seharusnya memberiakn konstribusi langsung pada pembangunan sosial lewat bermacam kebijakan dan program sektor publik Perspektif institusional membutuhkan bentuk organisasi formal yang bertanggungjawab untuk mengatur usaha pembangunan sosial dan mengharmonisasikan implementasi dari berbagai pendekatan strategis yang berbeda. Organisasi seperti ini berada pada tingkat yang berbeda tetapi tetap harus dikoordinaasikan pada tingkat nasional. Mereka juga mempekerjakan tenaga spesialis yang terlatih dan terampil untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan sosial

Akar Ideologi Institusionalisme

Perspektif institusional pada pembangunan sosial memiliki akar pada usaha untuk mengangkat toleransi dan koeksistensi terhadap paham yang berbeda. Pada Eropa modern, ide ini dapat ditelusuri kembali pada zaman reinansance, ketika ilmuan seperti sir Thomas More dan Desiderius Erasmus yang pertama kali menyerukan toleransi beragama. Menurut D.J. Manning paham utopia More ini tidak hanya memberikan kesempatan bagi rakyat untuk memegang dan mengekspresikan paham keberagaman mereka tetapi memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencoba dan mengubah keyakinan lain dengan damai, lembut, tenteram tanpa harus berkoar-koar dan memaksa satu sama lain.

Dasar Teoritis Pendekatan Institusional

Artikulasi paham ideologis pada pemikiran barat menfasilitasi formulasi teori ilmu sosial yang merupakan sebuah kompromi antara kapitalisme laissez-faire dan komunisme. Para ilmuan yang mengartikulasikan teori ini bergabung dengan kelompok politik pada pusat sebuah spektrum ideologis tetapi tulisan mereka lebih membahas jauh ideologi dan memberikan penjelasan teoritis yang lengkap yang kondusif untuk formulasi kebijakan dan program praktis. Istilah institusionalisme sangat terkait dengan tulisan seorang ahli ekonomi Amerika, Thorstein Veblen yang pertama kali menentang klaim pakar ekonomi neo-klasikal yang berpandangan bahwa pasar adalah satu-satunya mekanisme institusional untuk mencapai kemakmuran. Veblen menolak pandangan ini dan menunjuk motif sosial dan dorongan pada masyarakat yang lebih luas yang membentuk prilaku ekonomi. Ia berpendapat bahwa pencapaian kepentingan ekonomi adalah salah satu dari banyak faktor yang mempengaruhi motif manusia. Ia berpendapat bahwa masyarakat sebagai institusi yang lebih luas sama pentingnya dengan pasar dalam menentukan perilaku ekonomi. Penekanan Veblen pada institusi sosial yang lebih luas daripada pertimbangan ekonomi yang sempit yang akhirnya menggiring penggunaan istilah institusionalisme untuk menggambarkan ide-ide beliau. Read More…

Posted by: devirahman | November 17, 2009

Debat Teoritis Pembangunan Sosial

Munculnya pembangunan sosial pada abad ke-19, yang merupakan dampak dari terbentuknya negara kesejahteraan (welfare state) telah memberikan kontribusi pada munculnya pendekatan pembangunan sosial, dimana hal ini secara signifikan berdampak pada pemikiran teoritis. Dasar dari pemikiran teori pembangunan sosial ini yaitu dengan melihat penjelasan tentang sebab dan akibat perubahan sosial dan pemikiran tentang apa yang termasuk ke dalam masyarakat ideal. Membahas aspek-aspek pembangunan sosial, diawali dengan membahas peran teori pembangunan sosial dengan memperhatikan secara khusus pada teori-teori yang dipergunakan di lapangan dan selanjutnya menawarkan sebuah model yang sederhana dan representatif tentang pembangunan sosial sebagai sebuah proses.

Akar Teoritis Pembangunan Sosial

  1. Teori  Representasional Menggambarkan fenomena dari situasi-situasi, yaitu dengan mengartikan struktur yang dapat diobservasi di dunia nyata ke dalam gambaran abstrak. Teori ini merupakan bentuk paling dasar dalam sebuah teori yang dimaksudkan untuk memberikan kerangka konseptual yang dapat memfasilitasi analisa tentang hubungan sebab akibat, mengklasifikasikan fenomena dan menyederhanakan realita yang kompleks ke dalam bagian-bagian konstituen. Teori ini mengatur konsep dan hubungan di antara mereka ke dalam sistem konseptual yang lebih kompleks. Teori ini terdiri dari elemen deskriptif juga analisis, dan memberikan kerangka normatif ke dalam intervensi yang bersifat spesifik.
  2. Teori Eksplanatori Teori ini dibangun dari teori representasional, tetapi tujuan dari teori ini adalah menjelaskakn mengapa kejadian itu terjadi, mengorganisir konsep ke dalam hipotesa yang dapat di uji secara empiris. Verifikasi dan pembantahan hipotesa merupakan bagian yang sangat penting dalam proses pengembangan penjelasan yang tepat tentang kejadian.
  3. Teori Normatif Terkait dengan evaluasi kejadian dan dengan formulasi dasar-dasar yang akan mendasari proses pembangunan kebijakan. Kriteria ini lebih bersifat moral karena melihat kejadian tentang apa yang dimaksud dengan ‘kebaikan’ dan ‘keburukan’ atau seringkali berhubungan dengan kriteria tampilan (performance criteria). Kriteria ini mendefinisikan bagaimana kebijakan dan program-program dapat mencapai tujuan yang telah direncanakan. Banyak digunakan pada lapangan terapan seperti pekerjaan sosial, kebijakan sosial, dan pembangunan sosial.

Penggunaan Teori dalam Pembangunan Sosial

Pembangunan sosial tidak memiliki bangunan teori yang cukup berkembang. Ide-ide representasional seringkali bersifat implisit daripada eksplisit. Selain itu, banyaknya aktifitas teori yang didominasi oleh pertimbangan-pertimbangan normatif lebih memperhatikan isu praktis yang lebih idealis dan hortatoris. Dalam hal ini, teori eksplanatori justru sangat tidak berkembang dalam pembangunan sosial. Hal ini disebabkan karena pembangunan sosial tidak menghasilkan rangkaian hipotesa yang terdefinisi dengan baik. Dalam model representasional, pembangunan sosial dianggap sebagai ‘sebuah proses’. Proses pembangunan sosial dibagi ke dalam tiga tahapan yaitu, pertama sebelum adanya situasi sosial atau objek pembangunan sosial, kedua adanya proses pembangunan sosial itu sendiri, terakhir keadaan akhir atau tujuan yang akan dicapai dengan proses pembangunan sosial. Read More…

Posted by: devirahman | November 17, 2009

Konteks Sejarah Pembangunan Sosial

Pembangunan sosial dipengaruhi oleh ekpansi layanan-layanan sosial pemerintah dan adopsi perencanaan ekonomi.

Teori-teori Perubahan dan Intervensi Sosial

Pembangunan sosial terkait dengan proses perubahan yang ditunjang oleh aksi manusia nyata. Pembangunan sosial bukan sebuah proses yang spontan tetapi membutuhkan intervensi yang terorganisir.Untuk memahami asal-usul dari pembangunan sosial diperlukan teori perubahan sosial dan konsep intervensi sosial.

Rollin Chambliss(1954) mengemukakan para filsuf yunani telah banyak menulis tentang perubahan sosial dan sebelumnya ide-ide tentang perubahan sosial telah muncul dalam bentuk mitis-mitos,legenda,dan agama-agama dari peradaban kuno.Contohnya ide tentang kehancuran dari masa keemasan.

Ada beberapa pandangan  tentang perubahan sosial yaitu pandangan optimis atau progresif yang percaya bahwa perubahan sosial merupakan proses kemajuan yang menghasilkan peningkatan dan perbaiakan yang signifikan, ditandai dengan kemajuan-kemajuan yang bersifat linier, stabil dan melewati tahap-tahap yang jelas, pandangan pesimis atau retrogressive yang percaya bahwa perubahan sosial sebuah kemunduran dari masa keemasan dan pandangan proses yang berputar (cyclical process) yang percaya bahwa perubahan sosial adalah sebuah proses yang berubah-ubah antara kemajuan dan kemunduran.

H.W Arndt (1978) mencatat bahwa waktu secara historis sebagai proses statis tidak terjadi perubahan,tetapi ditentang pada masa era renaissence dan era pencerahan.Era pencerahan menjunjung nilai-nilai masyarakat baru dan modernitas yang ditandai dengan individualisme,ide-ide rasional dan kemajuan. Read More…

Posted by: devirahman | November 17, 2009

Definisi Pembangunan Sosial

Istilah ‘pembangunan’ saat ini banyak orang mengkonotasikan sebagai perubahan ekonomi yang diawali oleh proses industrialisasi. Juga dapat diartikan sebagai proses perubahan sosial yang dihasilkan dari urbanisasi, adopsi gaya hidup modern dan perilaku masa kini. Namun pembangunan seringkali di asosiasikan dengan perubahan ekonomi, pembangunan berarti kemajuan ekonomi.

Dalam pembangunan ada suatu istilah yang dikenal dengan nama pembangunan terdistori. Pembangunan terdistori  adalah pertumbuhan ekonomi yang tidak sejalan dengan pembangunan sosial, masalahnya bukan pada pembangunan tapi pada kegagalan dalam mengharmonisasikan tujuan-tujuan pembangunan sosial dan ekonomi dan juga kegagalan dalam keuntungan ekonomi yang menyentuh masyarakat secara keseluruhan. Read More…

Posted by: devirahman | November 17, 2009

Modal Sosial

Sepanjang tahun 1990an suatu konsep modal baru, modal social, muncul dalam penggunaan yang lebih umum disamping berdirinya konsep keuangan, riil, modal  manusia. Lebih satu decade kemudian, ledakan penelitian tentang modal social berlangsung dalam sejumlah besar disiplin akademis. Tidak sama dengan konsep rekannnya, gagasan untuk modal social tidak dimulai dari disiplin ekonomi tetapi mempunyai akar utama dalam sosiologi. Hal itu telah dikatakan mulanya oleh sarjana sosiologi klasik sejak abad 19 (Portes and Landolt 1996). Secara eksplisit yang nampak menggunakan  istilah pertama kira-kira di Amerika Serikat oleh Hanifan (1916). Jacob (1961) mengggunakan konsep dalam bukunya di Amerika dan Antropolog Hanner (1969) mengggunakan istilah dalam bukunya kebudayaan gheeto. Di Eropa yaitu Bourdieu (1980) membuat konsep yang umum dikenal yaitu kondep modal social, disamping konsep-konsep yang diketahui lebih baik adalah modal budaya. Modal social menurut Bourdieu adalah penjumlahan dari sumber daya yang nyata atau tidak nyata yang mengakui perorangan atau kelompok bersadarkan atas pemilikan suatu jaringan yang tahan lama yang kurang lebih melembagakan hubungan pengenalan dan hubungan timbal balik (Bourdieu dan Wacquant 1992 p.119). Sarjana lain yang telah menggambarkan modal social sebagai suatu sumber daya terkait dengan individu adalah Loury (1977,1987)

Coleman (1988.1990) mendefinisikan konsep kemudian menempatkannya pada suatu wahana berbeda dari individu. Di dalam dasar teori social (1990) ia menggunakan figure di bawah untuk menjelaskan pembedaan antara modal manusia dan modal social. Mosal manusia menjadi sumber daya yang terkait dengan individu (dalam urat manusia), sedang modal social ditemukan dalam mata rantai hubungan antar individu atau actor. Read More…

Posted by: devirahman | November 17, 2009

Teori Pertumbuhan Ekonomi

Model pertumbuhan Linear mendominasi perkembangan teori pembangunan sejak pertama kali dikemukakan oleh Adam Smith yang mengalami puncak kejayaanya dengan lahirnya teori pertumbuhan yang dikemukakan oleh Rostow.Teori-teori pembangunan yang dikemukakan oleh Adam Smith,Karl Marx dan Rostow termasuk dalam model pertumbuhan linear.

Adam Smith membagi tahapan pertumbuhan ekonomi menjadi 5 tahap yang berurutan,yaitu di mulai dari masa perburuan,masa beternak,masa bercocok tanam,perdagangan dan tahap perindustrian.Menurut teori ini masyarakat bergerak dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern yang kapitalis Dalam hal ini Adam Smith memandang pekerja sebagai input (masukan) bagi proses produksi.Dalam system ekonomi kapitalis posisi tawar menawar (bargaining position) pekerja terhadap pengusaha relatif sangat kecil dan konsekuensinya terjadi eksploitasi para pengusaha terhadap para pekerja.Asumsi ini menunjukan “kekejaman” teori Adam Smith dengan sistim ekonomi kapitalnya. Read More…

Posted by: devirahman | November 17, 2009

Mengangkat Pembangunan Sosial lewat Perencanaan Terpadu

Latar belakang

Perencanaan secara luas diadopsi setelah perang dunia II pada negara berkembang yang baru merdeka untuk mengangkat pertumbuhan yang cepat dan modernisasi diangkat baik oleh pemerintah atau badan internasional.

1950, di warnai dengan kemunculan Pendekatan Residualis (Pendekatan Residualis)

1960, dominasi terhadap Kritik pendekatan Residualis melakukan perencanaan pembangunan sosio ekonomi terpadu.

1970, Indikator sosial semakin banyak digunakan dalam perencanaan pembangunan. Perencanaan sosial juga mulai memasukan bahasan tentang lapangan sektoral seperti pendidika, kesehata, pembangunan pedesaan, pemukiman dan layanan pekerjaan sosial untuk mengidentifikasi halangan untuk mengangkat kesejahteraan sosial.

1980, Kemajuan telah dilakukan dalam menghubungkan perencanaan sosial dan ekonomi dan mengangkat pendekatan terpadu dalam pembangunan.

1990, Penitikberatan pada perencanaan sosial dan pembangunan sosial.

Pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan dan kemerataan.

Diungkapkan bahwa pertumbuhan adalah dasar yang tidak cukup untuk mengangkat kesejahteraan sosial. Pernyataan ini mendesak pemerantah untuk merumuskan tujuan sosial yang lebih spesifik untuk pembanguan dan untuk menyalurkan sumber yang ada untuk rakyat lewat perencanaan sosial yang menargetkan kepada kelompok berpenghasilan rendah. Read More…

di adaptasikan dari tulisan James Midgley

Undang-undang program jaminan sosial yang ada saat ini pertama kali muncul di eropa barat pada akhir abad 19 untuk memberikan perlindungan terbatas pada upah para buruh industri dari kemungkinan pemutusan hubungan kerja, sakit, cacat dan pensiun, dan untuk menjaga  penurunan pendapatan seiring dengan meninggalnya para pekerja tersebut. Program tersebut secara perlahan diperluas untuk mencakup golongan yang lebih besar dalam masyarakat. Sekitar tahun 50 an, sebagian besar negara – negara industri barat seluruhnya atau hampir seluruhnya telah tercakup. Saat ini jaminan sosial merupakan komponen utama dalam negara kesejahteraan (Welfare state) modern, dan biaya jaminan sosial merupakan proporsi terbesar dalam anggaran negara. Read More…

Posted by: devirahman | November 15, 2009

Ke Solo…

Hari ini semuanya diawali dengan suasana mendung dan hujan yang turun begitu deras. Pagi-pagi dengan kondisi mata mengantuk karena tidak mampu memejamkan mata kupaksakan langkahku menuju Kota Solo untuk mengikuti sebuah test… terlalu banyak peserta test di sana… aku tidak yakin dengan test ini tapi ku yakin bahwa segalanya sudah di atur dan sebagai manusia aku hanyalah sak dermo nglakoni. Mungkin kalo dipikir secara logika ini bulkanlah suatu yang logis, tapi apapun kesempatan itu datangnya dari Atas… aku takut di cap sombong oleh diriku sendiri apalagi dicap sombong oleh Yang Memberi Kesempatan… bila melewatkannya. Hanya mengharap keberuntungan dari apa yang telah aku tirakatkan sebelumnya,,,,

Mendengar kabar bapak dan ibuku terpeleset dari motor membuat perasaan ini tidaklah tenang,,, meskipun kini semuanya sudah baikan. Aku bangga dengan ibu dan bapak yang tidak pernah mempunyai itikad membolos bekerja, meskipun kesempatan itu selalu ada. Mungkinkah aku seperti kedua orangtuaku nanti? Semoga, bias memegang amanah dari siapapun itu dan bias mennjalaninya dengan ikhlas. Kutitipkan rasa rindu ini untuk kedua orang tuaku di Cilacap, dan untuk kakakku di Cepu yang tak pernah berhenti mendoakanku di sela-sela rasa kasihnya untukku.

Masih terngiang dalam ingatanku semalam sahabatku bercerita, bahwa ia telah putus dengan pacarnya. Yah, pacar emang bukan suami ataupun istri. Sebenarnya berapa sih harga cinta itu? Kenapa ya, seolah cinta begitu mudah diputus, begitu mudah disambung, begitu mudah diawali dan begitu mudah diakhiri. Dan kenapa cinta itu bias terlalu cepat datang sementara hati belum siap menerima. Ah, itu urusan kawanku, meski sedih juga melihat guratan rasa sakit hati di mata sahabat yang begitu akrab, saat masih menempuh studi di Semarang.

Kututup essay mala mini dengan senandung lagu-lagu potret…

Older Posts »

Categories