Sebuah Perspektif Institusional
Perspektif Institusional berpendapat bahwa institusi sosial yang berbeda termasuk negara, pasar dan masyarakat dapat dimobilisasi untuk mengangkat tujuan pembangunan sosial. Pemerintah seharusnya secara aktif mengarahkan proses pembangunan sosial dengan cara memaksimalkan partisipasi masyarakat, pasar, dan individu, selain menfasilitasi dan mengarahkan pembangunan sosial, pemerintah juga seharusnya memberiakn konstribusi langsung pada pembangunan sosial lewat bermacam kebijakan dan program sektor publik Perspektif institusional membutuhkan bentuk organisasi formal yang bertanggungjawab untuk mengatur usaha pembangunan sosial dan mengharmonisasikan implementasi dari berbagai pendekatan strategis yang berbeda. Organisasi seperti ini berada pada tingkat yang berbeda tetapi tetap harus dikoordinaasikan pada tingkat nasional. Mereka juga mempekerjakan tenaga spesialis yang terlatih dan terampil untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan sosial
Akar Ideologi Institusionalisme
Perspektif institusional pada pembangunan sosial memiliki akar pada usaha untuk mengangkat toleransi dan koeksistensi terhadap paham yang berbeda. Pada Eropa modern, ide ini dapat ditelusuri kembali pada zaman reinansance, ketika ilmuan seperti sir Thomas More dan Desiderius Erasmus yang pertama kali menyerukan toleransi beragama. Menurut D.J. Manning paham utopia More ini tidak hanya memberikan kesempatan bagi rakyat untuk memegang dan mengekspresikan paham keberagaman mereka tetapi memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencoba dan mengubah keyakinan lain dengan damai, lembut, tenteram tanpa harus berkoar-koar dan memaksa satu sama lain.
Dasar Teoritis Pendekatan Institusional
Artikulasi paham ideologis pada pemikiran barat menfasilitasi formulasi teori ilmu sosial yang merupakan sebuah kompromi antara kapitalisme laissez-faire dan komunisme. Para ilmuan yang mengartikulasikan teori ini bergabung dengan kelompok politik pada pusat sebuah spektrum ideologis tetapi tulisan mereka lebih membahas jauh ideologi dan memberikan penjelasan teoritis yang lengkap yang kondusif untuk formulasi kebijakan dan program praktis. Istilah institusionalisme sangat terkait dengan tulisan seorang ahli ekonomi Amerika, Thorstein Veblen yang pertama kali menentang klaim pakar ekonomi neo-klasikal yang berpandangan bahwa pasar adalah satu-satunya mekanisme institusional untuk mencapai kemakmuran. Veblen menolak pandangan ini dan menunjuk motif sosial dan dorongan pada masyarakat yang lebih luas yang membentuk prilaku ekonomi. Ia berpendapat bahwa pencapaian kepentingan ekonomi adalah salah satu dari banyak faktor yang mempengaruhi motif manusia. Ia berpendapat bahwa masyarakat sebagai institusi yang lebih luas sama pentingnya dengan pasar dalam menentukan perilaku ekonomi. Penekanan Veblen pada institusi sosial yang lebih luas daripada pertimbangan ekonomi yang sempit yang akhirnya menggiring penggunaan istilah institusionalisme untuk menggambarkan ide-ide beliau. Read More…




