Posted by: devirahman | November 17, 2009

Mencapai Pembangunan Sosial

Sebuah Perspektif Institusional

Perspektif Institusional berpendapat bahwa institusi sosial yang berbeda termasuk negara, pasar dan masyarakat dapat dimobilisasi untuk mengangkat tujuan pembangunan sosial. Pemerintah seharusnya secara aktif mengarahkan proses pembangunan sosial dengan cara memaksimalkan partisipasi masyarakat, pasar, dan individu, selain menfasilitasi dan mengarahkan pembangunan sosial, pemerintah juga seharusnya memberiakn konstribusi langsung pada pembangunan sosial lewat bermacam kebijakan dan program sektor publik Perspektif institusional membutuhkan bentuk organisasi formal yang bertanggungjawab untuk mengatur usaha pembangunan sosial dan mengharmonisasikan implementasi dari berbagai pendekatan strategis yang berbeda. Organisasi seperti ini berada pada tingkat yang berbeda tetapi tetap harus dikoordinaasikan pada tingkat nasional. Mereka juga mempekerjakan tenaga spesialis yang terlatih dan terampil untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan sosial

Akar Ideologi Institusionalisme

Perspektif institusional pada pembangunan sosial memiliki akar pada usaha untuk mengangkat toleransi dan koeksistensi terhadap paham yang berbeda. Pada Eropa modern, ide ini dapat ditelusuri kembali pada zaman reinansance, ketika ilmuan seperti sir Thomas More dan Desiderius Erasmus yang pertama kali menyerukan toleransi beragama. Menurut D.J. Manning paham utopia More ini tidak hanya memberikan kesempatan bagi rakyat untuk memegang dan mengekspresikan paham keberagaman mereka tetapi memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencoba dan mengubah keyakinan lain dengan damai, lembut, tenteram tanpa harus berkoar-koar dan memaksa satu sama lain.

Dasar Teoritis Pendekatan Institusional

Artikulasi paham ideologis pada pemikiran barat menfasilitasi formulasi teori ilmu sosial yang merupakan sebuah kompromi antara kapitalisme laissez-faire dan komunisme. Para ilmuan yang mengartikulasikan teori ini bergabung dengan kelompok politik pada pusat sebuah spektrum ideologis tetapi tulisan mereka lebih membahas jauh ideologi dan memberikan penjelasan teoritis yang lengkap yang kondusif untuk formulasi kebijakan dan program praktis. Istilah institusionalisme sangat terkait dengan tulisan seorang ahli ekonomi Amerika, Thorstein Veblen yang pertama kali menentang klaim pakar ekonomi neo-klasikal yang berpandangan bahwa pasar adalah satu-satunya mekanisme institusional untuk mencapai kemakmuran. Veblen menolak pandangan ini dan menunjuk motif sosial dan dorongan pada masyarakat yang lebih luas yang membentuk prilaku ekonomi. Ia berpendapat bahwa pencapaian kepentingan ekonomi adalah salah satu dari banyak faktor yang mempengaruhi motif manusia. Ia berpendapat bahwa masyarakat sebagai institusi yang lebih luas sama pentingnya dengan pasar dalam menentukan perilaku ekonomi. Penekanan Veblen pada institusi sosial yang lebih luas daripada pertimbangan ekonomi yang sempit yang akhirnya menggiring penggunaan istilah institusionalisme untuk menggambarkan ide-ide beliau. Read More…

Posted by: devirahman | November 17, 2009

Debat Teoritis Pembangunan Sosial

Munculnya pembangunan sosial pada abad ke-19, yang merupakan dampak dari terbentuknya negara kesejahteraan (welfare state) telah memberikan kontribusi pada munculnya pendekatan pembangunan sosial, dimana hal ini secara signifikan berdampak pada pemikiran teoritis. Dasar dari pemikiran teori pembangunan sosial ini yaitu dengan melihat penjelasan tentang sebab dan akibat perubahan sosial dan pemikiran tentang apa yang termasuk ke dalam masyarakat ideal. Membahas aspek-aspek pembangunan sosial, diawali dengan membahas peran teori pembangunan sosial dengan memperhatikan secara khusus pada teori-teori yang dipergunakan di lapangan dan selanjutnya menawarkan sebuah model yang sederhana dan representatif tentang pembangunan sosial sebagai sebuah proses.

Akar Teoritis Pembangunan Sosial

  1. Teori  Representasional Menggambarkan fenomena dari situasi-situasi, yaitu dengan mengartikan struktur yang dapat diobservasi di dunia nyata ke dalam gambaran abstrak. Teori ini merupakan bentuk paling dasar dalam sebuah teori yang dimaksudkan untuk memberikan kerangka konseptual yang dapat memfasilitasi analisa tentang hubungan sebab akibat, mengklasifikasikan fenomena dan menyederhanakan realita yang kompleks ke dalam bagian-bagian konstituen. Teori ini mengatur konsep dan hubungan di antara mereka ke dalam sistem konseptual yang lebih kompleks. Teori ini terdiri dari elemen deskriptif juga analisis, dan memberikan kerangka normatif ke dalam intervensi yang bersifat spesifik.
  2. Teori Eksplanatori Teori ini dibangun dari teori representasional, tetapi tujuan dari teori ini adalah menjelaskakn mengapa kejadian itu terjadi, mengorganisir konsep ke dalam hipotesa yang dapat di uji secara empiris. Verifikasi dan pembantahan hipotesa merupakan bagian yang sangat penting dalam proses pengembangan penjelasan yang tepat tentang kejadian.
  3. Teori Normatif Terkait dengan evaluasi kejadian dan dengan formulasi dasar-dasar yang akan mendasari proses pembangunan kebijakan. Kriteria ini lebih bersifat moral karena melihat kejadian tentang apa yang dimaksud dengan ‘kebaikan’ dan ‘keburukan’ atau seringkali berhubungan dengan kriteria tampilan (performance criteria). Kriteria ini mendefinisikan bagaimana kebijakan dan program-program dapat mencapai tujuan yang telah direncanakan. Banyak digunakan pada lapangan terapan seperti pekerjaan sosial, kebijakan sosial, dan pembangunan sosial.

Penggunaan Teori dalam Pembangunan Sosial

Pembangunan sosial tidak memiliki bangunan teori yang cukup berkembang. Ide-ide representasional seringkali bersifat implisit daripada eksplisit. Selain itu, banyaknya aktifitas teori yang didominasi oleh pertimbangan-pertimbangan normatif lebih memperhatikan isu praktis yang lebih idealis dan hortatoris. Dalam hal ini, teori eksplanatori justru sangat tidak berkembang dalam pembangunan sosial. Hal ini disebabkan karena pembangunan sosial tidak menghasilkan rangkaian hipotesa yang terdefinisi dengan baik. Dalam model representasional, pembangunan sosial dianggap sebagai ‘sebuah proses’. Proses pembangunan sosial dibagi ke dalam tiga tahapan yaitu, pertama sebelum adanya situasi sosial atau objek pembangunan sosial, kedua adanya proses pembangunan sosial itu sendiri, terakhir keadaan akhir atau tujuan yang akan dicapai dengan proses pembangunan sosial. Read More…

Posted by: devirahman | November 17, 2009

Konteks Sejarah Pembangunan Sosial

Pembangunan sosial dipengaruhi oleh ekpansi layanan-layanan sosial pemerintah dan adopsi perencanaan ekonomi.

Teori-teori Perubahan dan Intervensi Sosial

Pembangunan sosial terkait dengan proses perubahan yang ditunjang oleh aksi manusia nyata. Pembangunan sosial bukan sebuah proses yang spontan tetapi membutuhkan intervensi yang terorganisir.Untuk memahami asal-usul dari pembangunan sosial diperlukan teori perubahan sosial dan konsep intervensi sosial.

Rollin Chambliss(1954) mengemukakan para filsuf yunani telah banyak menulis tentang perubahan sosial dan sebelumnya ide-ide tentang perubahan sosial telah muncul dalam bentuk mitis-mitos,legenda,dan agama-agama dari peradaban kuno.Contohnya ide tentang kehancuran dari masa keemasan.

Ada beberapa pandangan  tentang perubahan sosial yaitu pandangan optimis atau progresif yang percaya bahwa perubahan sosial merupakan proses kemajuan yang menghasilkan peningkatan dan perbaiakan yang signifikan, ditandai dengan kemajuan-kemajuan yang bersifat linier, stabil dan melewati tahap-tahap yang jelas, pandangan pesimis atau retrogressive yang percaya bahwa perubahan sosial sebuah kemunduran dari masa keemasan dan pandangan proses yang berputar (cyclical process) yang percaya bahwa perubahan sosial adalah sebuah proses yang berubah-ubah antara kemajuan dan kemunduran.

H.W Arndt (1978) mencatat bahwa waktu secara historis sebagai proses statis tidak terjadi perubahan,tetapi ditentang pada masa era renaissence dan era pencerahan.Era pencerahan menjunjung nilai-nilai masyarakat baru dan modernitas yang ditandai dengan individualisme,ide-ide rasional dan kemajuan. Read More…

Posted by: devirahman | November 17, 2009

Definisi Pembangunan Sosial

Istilah ‘pembangunan’ saat ini banyak orang mengkonotasikan sebagai perubahan ekonomi yang diawali oleh proses industrialisasi. Juga dapat diartikan sebagai proses perubahan sosial yang dihasilkan dari urbanisasi, adopsi gaya hidup modern dan perilaku masa kini. Namun pembangunan seringkali di asosiasikan dengan perubahan ekonomi, pembangunan berarti kemajuan ekonomi.

Dalam pembangunan ada suatu istilah yang dikenal dengan nama pembangunan terdistori. Pembangunan terdistori  adalah pertumbuhan ekonomi yang tidak sejalan dengan pembangunan sosial, masalahnya bukan pada pembangunan tapi pada kegagalan dalam mengharmonisasikan tujuan-tujuan pembangunan sosial dan ekonomi dan juga kegagalan dalam keuntungan ekonomi yang menyentuh masyarakat secara keseluruhan. Read More…

Posted by: devirahman | November 17, 2009

Modal Sosial

Sepanjang tahun 1990an suatu konsep modal baru, modal social, muncul dalam penggunaan yang lebih umum disamping berdirinya konsep keuangan, riil, modal  manusia. Lebih satu decade kemudian, ledakan penelitian tentang modal social berlangsung dalam sejumlah besar disiplin akademis. Tidak sama dengan konsep rekannnya, gagasan untuk modal social tidak dimulai dari disiplin ekonomi tetapi mempunyai akar utama dalam sosiologi. Hal itu telah dikatakan mulanya oleh sarjana sosiologi klasik sejak abad 19 (Portes and Landolt 1996). Secara eksplisit yang nampak menggunakan  istilah pertama kira-kira di Amerika Serikat oleh Hanifan (1916). Jacob (1961) mengggunakan konsep dalam bukunya di Amerika dan Antropolog Hanner (1969) mengggunakan istilah dalam bukunya kebudayaan gheeto. Di Eropa yaitu Bourdieu (1980) membuat konsep yang umum dikenal yaitu kondep modal social, disamping konsep-konsep yang diketahui lebih baik adalah modal budaya. Modal social menurut Bourdieu adalah penjumlahan dari sumber daya yang nyata atau tidak nyata yang mengakui perorangan atau kelompok bersadarkan atas pemilikan suatu jaringan yang tahan lama yang kurang lebih melembagakan hubungan pengenalan dan hubungan timbal balik (Bourdieu dan Wacquant 1992 p.119). Sarjana lain yang telah menggambarkan modal social sebagai suatu sumber daya terkait dengan individu adalah Loury (1977,1987)

Coleman (1988.1990) mendefinisikan konsep kemudian menempatkannya pada suatu wahana berbeda dari individu. Di dalam dasar teori social (1990) ia menggunakan figure di bawah untuk menjelaskan pembedaan antara modal manusia dan modal social. Mosal manusia menjadi sumber daya yang terkait dengan individu (dalam urat manusia), sedang modal social ditemukan dalam mata rantai hubungan antar individu atau actor. Read More…

Posted by: devirahman | November 17, 2009

Teori Pertumbuhan Ekonomi

Model pertumbuhan Linear mendominasi perkembangan teori pembangunan sejak pertama kali dikemukakan oleh Adam Smith yang mengalami puncak kejayaanya dengan lahirnya teori pertumbuhan yang dikemukakan oleh Rostow.Teori-teori pembangunan yang dikemukakan oleh Adam Smith,Karl Marx dan Rostow termasuk dalam model pertumbuhan linear.

Adam Smith membagi tahapan pertumbuhan ekonomi menjadi 5 tahap yang berurutan,yaitu di mulai dari masa perburuan,masa beternak,masa bercocok tanam,perdagangan dan tahap perindustrian.Menurut teori ini masyarakat bergerak dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern yang kapitalis Dalam hal ini Adam Smith memandang pekerja sebagai input (masukan) bagi proses produksi.Dalam system ekonomi kapitalis posisi tawar menawar (bargaining position) pekerja terhadap pengusaha relatif sangat kecil dan konsekuensinya terjadi eksploitasi para pengusaha terhadap para pekerja.Asumsi ini menunjukan “kekejaman” teori Adam Smith dengan sistim ekonomi kapitalnya. Read More…

Posted by: devirahman | November 17, 2009

Mengangkat Pembangunan Sosial lewat Perencanaan Terpadu

Latar belakang

Perencanaan secara luas diadopsi setelah perang dunia II pada negara berkembang yang baru merdeka untuk mengangkat pertumbuhan yang cepat dan modernisasi diangkat baik oleh pemerintah atau badan internasional.

1950, di warnai dengan kemunculan Pendekatan Residualis (Pendekatan Residualis)

1960, dominasi terhadap Kritik pendekatan Residualis melakukan perencanaan pembangunan sosio ekonomi terpadu.

1970, Indikator sosial semakin banyak digunakan dalam perencanaan pembangunan. Perencanaan sosial juga mulai memasukan bahasan tentang lapangan sektoral seperti pendidika, kesehata, pembangunan pedesaan, pemukiman dan layanan pekerjaan sosial untuk mengidentifikasi halangan untuk mengangkat kesejahteraan sosial.

1980, Kemajuan telah dilakukan dalam menghubungkan perencanaan sosial dan ekonomi dan mengangkat pendekatan terpadu dalam pembangunan.

1990, Penitikberatan pada perencanaan sosial dan pembangunan sosial.

Pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan dan kemerataan.

Diungkapkan bahwa pertumbuhan adalah dasar yang tidak cukup untuk mengangkat kesejahteraan sosial. Pernyataan ini mendesak pemerantah untuk merumuskan tujuan sosial yang lebih spesifik untuk pembanguan dan untuk menyalurkan sumber yang ada untuk rakyat lewat perencanaan sosial yang menargetkan kepada kelompok berpenghasilan rendah. Read More…

di adaptasikan dari tulisan James Midgley

Undang-undang program jaminan sosial yang ada saat ini pertama kali muncul di eropa barat pada akhir abad 19 untuk memberikan perlindungan terbatas pada upah para buruh industri dari kemungkinan pemutusan hubungan kerja, sakit, cacat dan pensiun, dan untuk menjaga  penurunan pendapatan seiring dengan meninggalnya para pekerja tersebut. Program tersebut secara perlahan diperluas untuk mencakup golongan yang lebih besar dalam masyarakat. Sekitar tahun 50 an, sebagian besar negara – negara industri barat seluruhnya atau hampir seluruhnya telah tercakup. Saat ini jaminan sosial merupakan komponen utama dalam negara kesejahteraan (Welfare state) modern, dan biaya jaminan sosial merupakan proporsi terbesar dalam anggaran negara. Read More…

Posted by: devirahman | November 15, 2009

Ke Solo…

Hari ini semuanya diawali dengan suasana mendung dan hujan yang turun begitu deras. Pagi-pagi dengan kondisi mata mengantuk karena tidak mampu memejamkan mata kupaksakan langkahku menuju Kota Solo untuk mengikuti sebuah test… terlalu banyak peserta test di sana… aku tidak yakin dengan test ini tapi ku yakin bahwa segalanya sudah di atur dan sebagai manusia aku hanyalah sak dermo nglakoni. Mungkin kalo dipikir secara logika ini bulkanlah suatu yang logis, tapi apapun kesempatan itu datangnya dari Atas… aku takut di cap sombong oleh diriku sendiri apalagi dicap sombong oleh Yang Memberi Kesempatan… bila melewatkannya. Hanya mengharap keberuntungan dari apa yang telah aku tirakatkan sebelumnya,,,,

Mendengar kabar bapak dan ibuku terpeleset dari motor membuat perasaan ini tidaklah tenang,,, meskipun kini semuanya sudah baikan. Aku bangga dengan ibu dan bapak yang tidak pernah mempunyai itikad membolos bekerja, meskipun kesempatan itu selalu ada. Mungkinkah aku seperti kedua orangtuaku nanti? Semoga, bias memegang amanah dari siapapun itu dan bias mennjalaninya dengan ikhlas. Kutitipkan rasa rindu ini untuk kedua orang tuaku di Cilacap, dan untuk kakakku di Cepu yang tak pernah berhenti mendoakanku di sela-sela rasa kasihnya untukku.

Masih terngiang dalam ingatanku semalam sahabatku bercerita, bahwa ia telah putus dengan pacarnya. Yah, pacar emang bukan suami ataupun istri. Sebenarnya berapa sih harga cinta itu? Kenapa ya, seolah cinta begitu mudah diputus, begitu mudah disambung, begitu mudah diawali dan begitu mudah diakhiri. Dan kenapa cinta itu bias terlalu cepat datang sementara hati belum siap menerima. Ah, itu urusan kawanku, meski sedih juga melihat guratan rasa sakit hati di mata sahabat yang begitu akrab, saat masih menempuh studi di Semarang.

Kututup essay mala mini dengan senandung lagu-lagu potret…

Posted by: devirahman | November 2, 2009

Penerimaan CPNSD Pemprov JABAR 2009

Older Posts »

Categories