EMPAT tahun perdamaian di Aceh, adalah sebuah usia yang relatif dini. Namun kualitas perdamaian tidaklah ditentukan oleh rentang waktu yang panjang. Ketika konsensus itu sudah menjadi kesepakatan bersama maka disitulah genderang rasa aman mulai dirasakan. Perdamaian di Aceh bukanlah hanya kabar bahagia untuk rakyat Aceh semata, namun kabar kebahagiaan saudara-saudara kita semua dari sabang sampai merauke. Demikian pula saat kabar Tsunami datang, kita semua pun merasa berduka dan merasakan betapa beratnya penderitaan yang dialami rakyat Aceh. Hanya satu keyakinan bahwa badai pasti akan berlalu, dan keyakinan itu sudah terwujud sekarang.
Dalam teori resolusi konflik, konflik bukan berarti selamanya angkat senjata. Ada ruang integrasi disana yang dapat dicapai melalui kesepakatan-kesepakatan, menuju sistem yang baik. Mungkin artikel Mengaca Gerakan Mahasiswa Aceh, adalah gambaran real, bahwa gerakan sosial perdamaian mampu meruntuhkan sendi-sendi peperangan. Menuju area perdamaian membutuhkan upaya, demikian pula meningkatkan kualitas perdamaianpun membutuhkan upaya yang lebih besar. Tanggungjawab besar lain yang diperlukan adalah bagaimana mengisi nuansa perdamaian itu agar lebih bermanfaat bagi rakyat aceh pada umumnya.
Kabar bahagia buat saya adalah ketika membaca artikel saudara Saiful Mahdi yang berjudul ‘Jak Meudagang: Lompatan SDM Aceh’. Dituliskan bahwa” ….sudah lebih 1360 orang putra-putri Aceh yang dikirim belajar ke Malaysia, India, Australia, Taiwan, Mesir bahkan ke Jerman dan Sudan oleh Komisi Beasiswa Aceh. Mereka belajar pada jenjang S1 sampai S3. Bantuan dana pendidikan untuk yang bersekolah di dalam negeri, termasuk untuk program spesialis kedokteran, juga tak kurang…”.
Memang, bahwa membangun (dalam hal ini membangun ranah sosial, sebagaimana James Midgley katakan) tidak hanya dengan otot, tidak hanya dengan materi dan kekayaan alam yang melimpah. Lebih daripada itu adalah dengan membangun kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Membangun SDM, bukanlah doktrin untuk menjadikan rakyat aceh menjadi rakyat yang berlimpah ruah dengan uang, tapi membangun rakyat aceh yang bergelimang kesejahateraan, bukan hanya disektor ekonomi, namun juga kemerdekaan berpolitik, kemerdekaan dari segala intimidasi sosial, dan kebebasan mengembangkan budaya termasuk budaya akademisi.
Sebuah pengalaman sejarah di Indonesia di awal kemerdekaan, Indonesia juga mengirimkan putra-putri terbaik mereka belajar ke seluruh penjuru dunia untuk menuntut ilmu. Cita-cita pada waktu itu adalah agar putra-putri terbaik Indonesia mempunyai standar kualitas manusia Internasional. Mereka dituntut untuk menerapkan ilmu yang mereka dapatkan di luar Negeri di Indonesia. Inilah babak baru penjajahan yang sebenarnya sedang didera Indonesia, dan berdampak kemiskinan dan ketidakadilan sosial di seluruh penjuru tanah air, bukan hanya di Aceh, tapi juga di Jawa, dan juga pulau-pulau lain hingga Papua.
Kesalahan bukanlah pada itikad cita-cita mahasiswa untuk mendapatkan ilmu, namun pada proses penerapan ilmu sendiri, setelah ilmu tersebut di dapatkan, ilmu tersebut langsung diterapkan. Menuntut ilmu diluar daerah yang lebih maju, bukanlah cara untuk menduplikat metode yang diterapkan di negara maju untuk diterapkan di Indonesia. Sejarah Indonesia mencantat bahwa ribuan mahasiswa Indonesia hijrah menuntut ilmu ke luar negeri untuk diterapkan Indonesia.
Sejarah menjadi saksi, bahwa ekonom-ekonom Indonesia adalah produk hegemoni kapitalisme barat, yang diproduksi, didoktrin dengan ekonomi kapitalis barat. Seharusnya cita-cita Indonesia menyekolahkan putra-putrinya ke luar negeri (Barat) adalah bukan menuntut ilmu untuk diterapkan, tapi menuntut ilmu agar tahu: strategi apa yang mereka gunakan, sampai mampu menghegemoni rakyat indonesia agar berkiblat pada tata ekonomi dunia barat yang jelas tidak cocok diterapkan pada tata ekonomi negara berkembang. Dengan mengetahui strategi doktrin mereka pada Indonesia, harusnya Indonesia memahami cara dan strategi baru agar bisa lepas dari jeratan tata ekonomi dunia barat.
Namun sayangnya kesalahan orientasi belajar putra-putri bangsa Indonesia waktu itu adalah belajar untuk diterapkan. Banyak dari mereka produk luar negeri, sudah terbius oleh popularitas universitas tempat mereka belajar. Banyak pula di antara mereka yang akhirnya menjadi dosen-dosen di universitas terkemuka, dan menerapkan ilmu yang mereka dapatkan secara mentah-mentah. Akhirnya, ibaratkan rantai yang sangat panjang doktrin yang berasal dari negara barat tersebut sukses disebarkan di seluruh penjuru tanah air. Dan sayangnya Indonesia tidak pernah menyadari hal tersebut, di saat bangsa Indonesia menyadari, jeratan kapitalisme telah begitu mengakar kuat dan perlu perjuangan panjang untuk kembali pada kondisi indonesia yang sehat. Sebuah fakta bahwa saat ini Indonesia belum merdeka. Indonesia masih terjajah.
Ibaratkan kita akan melakukan sebuah kegiatan pemberdayaan, sebagai bentuk pembangunan sosial di tingkat mikro, kita tidak bisa langsung menerapkan berbagai metode di suatu daerah. Aspek kebudayaan memiliki factor yang penting untuk tercapainya pemberadayaan tersebut. Setiap daerah memiliki budaya yang berbeda, dan perlu perlakuan yang berbeda pula karena memiliki tingkat sensitifitas yang berbeda. Logika berpikir tentang pemberdayaan ini tentunya bisa dijadikan acuan tentang bagaimanakah selayaknya kita mengaplikasikan pengetahuan yang telah kita peroleh, sehingga tepat sasaran, efektif dan efisien. Penulis analogikan secara sederhana, misalnya putra aceh melakukan studi di Jawa, katakanlah Yogyakarta. Ilmu apa yang didapat di tanah jawa haruslah dipelajari dulu, cocokah diterapkan pada kondisi budaya aceh? Adakah alternatif lain yag lebih ideal? Sisi-sisi inilah yang kerap sekali dilupakan oleh para pelajar kita di Indonesia.
Para pelajar begitu mudah terbius, begitu mudah terkagum-kagum oleh besarnya dan begitu populernya universitas tempat mereka belajar. Sehingga apapun model yang di dapat di kampus mereka, tentulah itu yang dianggap benar. Padahal, kampus hanyalah media untuk belajar, selanjutnya untuk pengembangan aplikasi adalah diserahkan semuanya pada masing-masing personal.
Kalau kita menganalisis tulisan Antonio Gramsci, sebuah hegemoni ibaratkan benang yang halus di mana orang-orang sulit untuk menyadari bahwa sebenarnya doktrin itu tengah berlangsung. Hegemoni bisa terjadi melalui pencitraan media, melalui pendidikan, bahkan melalui bantuan kemanusiaan sekalipun. Di manapun ada celah untuk memasukan doktrin, disitulah sebuah hegemoni sedang berlangsung.
Oleh karena itulah, orientasi pembangunan yang diselenggarakan oleh rakyat Aceh kiranya harus terus dikawal oleh segenap rakyat Aceh itu sendiri pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Apalah arti sebuah perdamaian jika sebenarnya yang terwujud adalah kedamaian yang hampa. Kedamaian yang statis tanpa adanya perubahan menuju arah yang lebih baik. Pembangunan bukanlah perdebatan antara liberalism atau sosialisme. Aceh khususnya dan Indonesia umumnya bukanlah Martin Wolf yang mengagungkan Globalisasi sebagai jalan menuju kesejahteraan, Aceh khususnya dan Indonesia umumnya juga bukanlah Michael Newman yang menganggap sosialisme abad 21 sebagai jalan alterantif abad 21. Aceh khususnya dan Indonesia umumnya adalah pribadi tersendiri yang memimpikan perdamaian di atas keadilan sosial atas dasar kesejahteraan seluruh masyarakatnya.
Jagalah perdamaian di Aceh. Isilah masa damai dengan berbuat yang terbaik untuk bangsa, jadikan rakyat Aceh menjadi tuan di negeri sendiri. Kedamaian yang hampa tidaklah berarti. Semoga cita-cita Aceh yang damai dan sejahtera bisa terwujud dan kami percaya kualitas SDM Aceh yang maju akan bisa melalui segala pernik pembangunan sosial yang akan dilewati pada masa kini dan masa yang akan datang. Salam perdamaian.
Artikel ini dimuat di “Aceh Institute”. Devi Rahman | Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi konsentrasi Kebijakan dan Kesejahteraan Sosial UGM Yogyakarta. Hak Cipta Terlindungi © Copyrights by The Aceh Institute | Bila mau mengutip, mengacu, menggunakan, dan menyebarluaskan isi website ini harus sesuai seizin penulis asli dan “Aceh Institute” sebagai sumber otentik.| WWW.ACEHINSTITUTE.ORG|.
Didedikasikan secara khusus, kepada sahabat karib penulis: Masrizal, MA (aneuk Aceh) yang akan segera mengamalkan ilmunya, dan mengisi perdamaian di Aceh setelah menyelesaiakan studi S2 di Universitas Gadjah Mada.
Selengkapnya mengenai artikel ini bisa di akses di WWW.ACEHINSTITUTE.ORG




