“Mendambakan sebuah lingkungan yang saling mendukung tidaklah cukup. Kebanyakan dari kita tumbuh dalam budaya yang lebih mudah mengatakan apa yang salah atas apa yang dilakukan orang-orang daripada memuji terhadap apa yang berhasil mereka lakukan” – Tom Rath
Sebuah polling yang diadakan Gallup – sebuah perusahaan yang meneliti sifat dan tingkah laku manusia – untuk mengukur perbandingan antara orangtua yang peduli dengan nilai bagus anak dan orangtua yang peduli dengan nilai buruk anak. Polling ini dilakukan di berbagai negara dan budaya. Pertanyaan yang diajukan adalah sebagai berikut :
“Anak Anda mendapatkan nilai Bahasa Inggris: A, Ilmu Sosial: A; Biologi: C; Aljabar: F. Nilai mana yang paling mendapatkan perhatian Anda?
Berikut adalah hasilnya :
Negara – Peduli nilai A – Peduli nilai F
Inggris —– 22%— —— 52%—–
Jepang—– 18%—- —– 43%—–
Cina ——— 8%—- —– 56%—–
Perancis —- 7%—- —– 87%—–
Amerika —– 7%—- —– 77%—–
Canada —– 6%—- —– 83%—–
Dari hasil di atas ternyata sebagian besar orangtua di setiap negara memusatkan perhatian pada nilai F, bukan pada nilai A. Lalu Tom Rath dalam bukunya How full is your bucket? – memberikan analisa terhadap hasil polling ini dengan mengatakan bahwa para orangtua tanpa sadar terjebak dalam sebuah permainan “Bagaimana agar dapat memasukan anak ke perguruan tinggi?” daripada mempertimbangkan apa yan terbaik untuk perkembangan anak laki-laki atau perempuan mereka. Tetapi dalam ini bukan berarti Tom meminta para orangtua kemudian mengabaikan nilai F yang didapatkan anaknya untuk pelajaran tertentu. Ia hanya mencoba membalik cara berpikir; Mengapa para orangtua ini tidak mulai memfokuskan nilai A sebelum memikirkan strategi untuk memperbaiki nilai F?
Mungkinkah akibat dari perilaku ini membuat para siswa yang baru lulus dan kemudian memasuki dunia kerja tidak memiliki kesempatan pertama untuk melakukan apa yang sebetulnya mereka inginkan dalam hidup?
Sayangnya penelitian yang diadakan oleh Gallup ini tidak memasukan Indonesia sebagai negara yang dijadikan objek penelitian, sehingga kita hanya dapat menebak-nebak bagaimana perilaku orangtua di negeri ini terhadap hal yang sama. Walau demikian, hasil penelitian ini membuat kesadaran baru dalam diri, bahwa betapa orangtua perlu memiliki kesadaran untuk membedakan mendikte dengan mengarahkan dalam tumbuh kembang anak.
Sumber: Superparenting 1
http://www.facebook.com/group.php?gid=58154708600




