Posted by: devirahman | September 26, 2009

Stephen King : The King of Horror – Sebuah Kisah Tentang Dukungan

“Pasangan yang tidak pernah menyuarakan keraguan sama sekali. Dukungan yang tidak pernah surut, itu adalah salah satu dari beberapa kebaikan yang kuanggap sebagai berkah.” Stephen King

Jika Anda penyuka jenis tontonan yang menegangkan atau penikmat novel bergenre horor; tentu nama Stephen King sudah tidak asing lagi. Kemampuan beliau meramu berbagai kejadian biasa dan kemudian merangkainya dengan kata-kata yang tidak biasa membuat para penggemar bukunya seolah ketagihan melahap lembar demi lembar kisah yang ditulisnya. Tidaklah mengherankan jika dunia layar kaca dan layar lebar kemudian mengangkat banyak judul bukunya menjadi serial televisi hingga film.

Stephen King dan David; kakak laki-lakinya dibesarkan oleh ibunya sendirian. Tidak banyak yang dapat diketahui tentang ayahnya, begitu juga dengan masa muda ibunya. Yang sangat jelas adalah mereka mengetahui bahwa ibunya harus menyambung hidup dan membesarkan mereka dengan upah yang rendah di pertengahan tahun 50′an.

Bakat menulis Steve kecil sudah diketahui ibunya, dan juga menjadi sangat repot karena ulah Steve kecil yang beberapa kali dipanggil oleh pihak sekolah; bahkan dengan ancaman skorsing akibat bakat menulis anaknya tersebut. Tetapi ibunya tetap mendukung bakat menulis anaknya ini. Ada sebuah kalimat menarik yang diucapkan sang Ibu kepada Steve kecil ketika anaknya ini menjiplak habis kisah sebuah buku.

“Tulis karyamu sendiri, Stevie. Buku-buku lucu Combat Casey itu cuma sampah- Buku ini seperti memukul orang sampai giginya lepas. Mom yakin kamu mampu menulis lebih baik. Tulislah karyamu sendiri.”

Tumbuh remaja hingga dewasa muda di tengah-tengah kaum hippies yang sedang naik daun, tidak membuat Steve kemudian juga memilih pasangan hidup yang serampangan. Pilihannya jatuh pada seorang gadis yang juga senang menulis dan membuat puisi. Secara prinsip, baik Steve dan Tabitha memiliki kecenderungan monogami – yang pada waktu itu dianggap kuno – Mungkin persamaan prinsip inilah yang meletakan pondasi kehidupan rumah tangga mereka. Sehingga dalam banyak hal membuat mereka saling mendukung satu dengan lainnya.

Ketenaran Stephen King tidak langsung muncul mendadak, walau dari kisah hidupnya kita sudah mengetahui bahwa sejak kecil memang ia sudah memiliki bakat yang luar biasa dalam hal tulis menulis. Membutuhkan waktu bertahun-tahun dan puluhan naskah yang ditolak sebelum akhirnya “Carrie” – judul dari novelnya membuka pintu awal kesuksesan yang membawanya sebagai The King of Horor di kemudian hari.

Steve dan Tabby menikah setelah 1,5 tahun berpacaran di usia yang masih muda, dan sepertinya mereka terlalu cepat memiliki anak. Hal ini pun ternyata diakui oleh Steve dalam autobiografinya – Stephen King on Writting. Sempat timbul keraguan dalam diri Steven apakah menulis adalah jalan hidupnya atau ia perlu memutar haluan? Penghasilan mereka berdua; Steve sebagai karyawan binatu dan kemudian guru bahasa Inggris serta Tabby yang menjadi karyawan dunkin’ dounat hampir pasti tidak mampu menutup biaya hidup mereka dengan dua anak yang sering sakit-sakitan. Karena kecilnya penghasilan mereka, bahkan untuk memiliki sebuah sambungan telepon pun mereka tidak sanggup.

Ketika mulai menuliskan “Carrie”; Stephen King dalam keadaan yang sebetulnya setengah frustasi. Melewatkan malam-malamnya dengan menuliskan kisah-kisah yang begitu liar bermain dalam kepalanya dan lalu kemudian membuang naskah ketikannya. Hingga suatu malam Steve mendapati Tabby sedang mengosongkan isi keranjang sampah, memisahkan abu rokok dari bola-bola remasan kertas, meluruskan, dan duduk sambil membacanya. Tabby ingin sekali Steve meneruskan cerita tersebut dan ia menjanjikan akan membantu di bagian-bagaian yang tidak dikuasai Steve. Tabitha memiringkan dagunya dan menyunggingkan senyuman khasnya yang sangat manis. “Kau punya sesuatu di sini. Aku benar-benar merasa begitu.”

Tidaklah mengherankan jika Stephen King dalam sebuah kesempatan mengatakan bahwa salah satu berkah dari sejumlah kebaikan bagi seorang pasangan adalah dukungan yang tidak pernah surut bagi lainnya.

Kepercayaan dan rasa hormat dari pasangan adalah sumber energi yang luar biasa ketika menghadapi masa-masa sulit. Jika masing-masing saling menguatkan bahwa lorong panjang yang gelap sekalipun pasti memiliki ujung yang terang maka ketika melalui masa-masa sulit tersebut akan menjadi jauh lebih mudah untuk dilalui.

Dari kisah di atas, dunia pengasuhan tidak melulu hanya masalah anak saja. Tetapi bagaimana peran serta pasangan dalam banyak kasus ternyata berhubungan erat dengan bagaimana seseorang mampu menjalani kehidupan rumah tangganya kelak.

Mari kita melatih diri dan saling mendukung dunia kepengasuhan dalam Superparenting Weekend Workshop. Jakarta, 7-8 November 2009

Keterangan lebih lanjut http://www.facebook.com/group.php?gid=153935354125

Sumber: Superparenting,

http://www.facebook.com/group.php?gid=58154708600


Leave a response

Your response:

Categories